Sabtu, 08 Maret 2014

Stilistika Puisi

 Puisi dan Ciri Teks Puisi
Puisi merupakan karya sastra yang paling penting. Puisi secara umum ditulis dengan menekankan kepada larik-larik sehingga jarang ditulis sampai pada baris pinggir kanan kertas.
            Ada tiga aspek penting yang mencirikan hakikat puisi antara lain intuisi, imajinasi, dan sintetik.
1. Intuisi
Intuisi merupakan suatu daya, suatu tenaga dalam yang tanpa bantuan pengalaman atau dibantu oleh proses logika mampu terlihat, memahami, dan menunjukkan kebenaran. Dengan intuisi sesuatu dapat dilihat dan dinyatakan secara tepat seolah-olah dengan menggunakan indra keenam, perasaan dan kata hati.
Untuk jelasnya, perhatikan puisi Toto Sudarto Bachtiar di bawah ini.
Pahlawan Tak Dikenal
            Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
            Tetapi bukan tidur, sayang
            Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
            Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
            Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tetapi bukan tidur sayang
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi pandang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang orang pun ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tetapi yang nampak, wajah-wajah sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur saying
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda

Dengan kekuatan intuisi, penyair menyampaikana sesuatu yang menyentuh, sesuatu yang menyentuh perasaan bukan pikiran. Karena intuisi ini pula menyebabkan karya puisi lebih bersifat ekspresif. Sebuah puisi diciptakan melalui suatu proses pematangan dan pengendapan di dalam kalbu yang kemudian dengan intuisi yang tajam mengekspresikannya dalam bentuk yang amat sederhana namun mengemban makna yang luas.
2. Imajinasi
Imajinasi dalam puisi merupakan bentuk kreativitas berpikir yang mampu memperkuat kesan suatu pengalaman jiwa. Di dalam puisi pengalaman jiwa tersebut diwujudkan ke dalam kata-kata. Makin lengkap dan dekat perwujudan angan-angan itu semakin tinggi mutu karya tersebut.
3. Sintetik
Sintetik diartikan sebagai suatu kesatuaan, suatu gabungan, suatu pemadatan. Akibat dari sifat puisi yang sintetik pernyataan puisi menjadi unik, dalam arti tidak langsung mengacu kepada sesuatu yang diungkapkannya, tetapi dapat menghasilkan pengertian luas dan bermacam-macam. Perhatika cuplikan puisi Chairil Anwar berikut.
Manisku jauh di pulau
Kalau kumati, dia mati iseng sendiri

            Perkataan “pulau” di sini tidaklah berarti sekeping tanah besar yang dikelilingi air menurut pengertian sehari-hari atau menurut geografi. Kekasih yang dibicarakan di sini tidak diartikan betul-betul berada di sebuah pulau, tetapi kekasih tersebut bisa berada di mana saja, yang jelas ia berada di tempat yang jauh, terpencil, kesepian, dan tidak dapat diajak bicara. Bahkan kata “manisku” belum tentu pula diartikan sebagai kekasih, tetapi mungkin suatu cita-cita, atau kedamaian yang didambakan, atau apa saja. Dengan demikian, sifat sintetik puisi menyebabkan puisi menjadi sesuatu yang ringkas tetapi menyarankan makna yang luas tanpa batas.
B. Gaya dari Segi Tipografi
            Dewasa ini terjadi perkembangan perkembangan yang luar biasa  dalam dunia perpuisian di Indonesia terutama dari segikeragaman bentuk lahir atau disebut juga tipografi. Keanekaragaman tipografi secara garis besar terdiri dari bentuk, sebagai berikut.
1. Tipografi dari sistem kalimat dalam larik dan bait
            Tipografi dalam sistem kalimat yang tersusun dalam larik, kemudian larik tersusun dalam bait, bait tersusun dalam struktur keseluruhan puisi,  merupakan hal- hal yang sudah lama ada. Pantun, syair, gurindam, sloka,  soneta, merupakan bentuk puisi yang dapat digolongkan dalam jenis ini. Selain itu sistem kalimat dalam bentuk larik yang kemudian membangun bait, bait membangun wacana untuk digunakan dalam puisi modern lainnya. Untuk yang terakhir ini perhatikan contoh berikut.
Fajar
Ada duka naik seperti pasang
            Hati di dalamnya tak kunjung tenggelam
            Sebelum batas sepi penghabisan dibenam
Hati diulur sampai keujung
Pada garis paling luar
Berbaris sinar
Angin memetik lagu indah
Hati tak kunjung fajar
Jauh didasar jiwa ada udara tipis
Penuh lagu tak terlarai kata manis
Benua selalu terbalut gerimis
Samar, merayu, makin lama makin tipis
                        (Sitor Situmorang, Wajah tak Bernama, 1982: 16)

            Tipografi dalam sistem kalimat dalam bentuk larik dan bait merupakan jenis tipografi yang paling dominan sampai saat ini. variasi bisa terjadi dalam panjang pendek kalimat, dalam jumlah larik dalam satu bait, atau jumlah bait dalam kesatuan puisi. Bisa terjadi puisi yang hanya baitnya satu atau hanya terdiri dari satu baris dalam satu bait, seperti puisi puisi Sitor “Bulan di tas kuburan”.
2. Tipografi Sistem Kalimat dalam Wujud Prosais
            Tipografi yang muncul pula di dalam dunia puisi modern adalah tipografi yang mirip karya prosa. Kalimat-kalimat yang dirangkai dalam susunan beruntun yang berbentuk paragraf. Gunawan Muhammad dan Sapardi Djoko Damono banyak melansirkan puisi gaya ini, yang biasanya disebut puisi prosais. Perhatikan contoh berikut.
NGIAU
            Suatu gang panjang menuju lumpur dan terang tubuhku mengapa panjang. Seekor kucing menjinjit tikus yang menggelepar tengkunknya. Seorang perempuan dan laiki-laki bergigitan. Yang mana kucing yang mana tikusnya? Ngiau! Ah gang yang panjang. Cobalah tentukan! Aku kenal Afrika aku kenal Eropa aku tahu benua aku kenal jam aku tahu jentara aku kenal terbang. Tapi bila manusia saling gigitan menanamkan gigi-gigi sepi mereka aku ragu menetapkan yang mana suka yang mana duka yang mana hampa yang mana makna yang mana orang yang mana kera yang mana dosa yang mana sorga.
            (Sutardji Coulzoum Bachri, O Amuk Kapak, 1981: 87)
            Puisi Sutadji tersebut walau kalimatnya berupa rentenan anak kalimat, namun pola yang digunakan berbentuk susunana kalimat yang tersusun dalam pola prosa.
3. Tipografi Sistem frase dalam Larik dan Bait
            Tipografi jenis ini terdiri dari rangkaian susunan frase sebagai unsur larik dan larik-larik tersebut membangun bait, dan bait kemudian membangun struktur keseluruhan puisi. Tipografi semacam ini dapat dilihat dari contoh berikut.
PURNAMA RAYA
Purnama raya
Bulan bercahaya
Amat cuaca
Ke Mayapada
Purnama raya
Pungguk merayu
Indah berseloka
Ayahanda beradu
Purnama raya
Gempaka berdendang
Tuan bekata
Naiklah abang
……………..
                        (Amir Hamzah, Buah Rindu, 1985: 9)
Walaupun diselapi oleh klausa namun, frase lebih dominan membentuk larik, dan larik membangun bait-bait.
4. Tipografi Sistem frase dalam Bait Simetris
            Puisi dalam sistem frase ada yang disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan tipografi yang tertata secara simetris. Perhatikan contoh berikut.
Tuhanku
Aku berguru kepadamu
Gelap dan terang
Saling menegaskan
Garis batasnya
Memusnahkan jaraknya
Pada pertentangannya
Memancarkan kesatruannya
Tuhanku
Hujan turun
Setetes demi setetes
Tanah kering ladangku hamil
Benih mengeliat
Lahir anak kita
Berpohonan cahaya
Tuhanku
Aku berguru kepadamu
Batu angin karipku
Umat adalah rahasia lontarmu
Tuhanku
Cintamu menyapa
Ketika sadar mata bahwa ia buta
…….
                                    ( Emha Nadjib, 99 Untuk Tuhanku, 1983:25)

5. Tipografi sistem Prosa dalam Wujud Prosais
            Terdapat tipografi puisi yang berakar pada system kata, yakni kata-kata dirangkai secara beururutan yang tak terputus-putus bagaikan tersusun dalam wujud karangan prosa. Perhatikan puisi berikut.
AMUK
Ngiau!
Kucing dalam darah dia menderas
Lewat dia mengalir ngilu ngiau dia ber-
Gegas lewat dalam aortaku dalam rimba
Darahku dia besar dia bukan harimau bu-
kan singa bukan hyena bukan leopardia
macam kucing bukan mucing tapi kucing
ngiau dilapar dia menambah rimba apri-
kaku dengan cakarnya dengan amuknya dia
meraung dia mengerang jangan beri da
ging dia tak mau daging jesus
jangan beri roti dia tidak mau roti ngiau
……..
Kucing meronta dalam darahku meraung
Merambah barah darahku dia lapar O
Alangkah lapar ngiau berapa juta Hari
Ia tak makan berapa ribu waktu dia tak
Kenyang berpa juta lapar-laparku-
Cingku berapa abad mencari mencakar menunggu
                     (Sutardji Colzoum Bachri, O Amuk Kapak,                           1981: 56-57)
6. Tipogarfi Sistem Kata dalam Susunan Simetris
            Ada puisi yang terdiri dari rangkaian kata-kata yang disusun sedemikian rupa sehingga memperlihatkan suatu suasana yang indah dan simetris kiri kanan serta berkembang secara vertikal ke bawah. Perhatikan contoh berikut.
Tuhanku
Sembahyang
Bibirku
Sembahyang
Wajahku
Sembahyang
Telapakku
Sembahyang
Kulitku
Sembahyang
Dagingku
Sembahyang
Tulangku
sembahyang
Uratku
sembahyang
Ubun-ubuku
Sembahyang
Darahku
Sembahyang
Nafasku
Sembahyang
Ma’rifatku
Sembahyang
Fikirku
Sembahyang
Rasaku
Sembahyang
Hati jiwaku
Sembahyang
Sukmaku
Sembahyang
Heningku
Sembahyang
Tuhanku
            (Emha Ainun Nadjib, 99 Untuk Tuhanku, 1983: 5-6)

7) Tipografi system kata yang tersusun dalam susunan lekuk
            Puisi yang bertumpu pada system kata ada yang tersusun dalam pola susunan lekuk (identasi) yang berselang-seling serta berkembang secara vertical ke bawah. Perhatikan contoh berikut.
apakah manusia
            hasrat
                        paha
                                    kontol
                                                puki
                                                            perut
                                                                        badan
                                                                                    hati
                                                                                                kepala
                                                                                                            langit
                                                                                                duri
                                                                                    bumi
                                                                        was
                                                            was
                                                was
                                    was
                        janji
            entah!

                        (Sutardji Calzoum Bachri, O Amuk Kapak, 1981:76)
           
8) Tipogrfi sistem kata yang tersusun secara acak
            Ada bentuk lahir puisi yang berpijak pada system kata, namun kata-kata yang digunakan disusun secara acak atau tidak terpola; kata-kata yang digunakan disebar secara horizontal dan vertikal. Perhatikan contoh puisi berikut.
       musang
                                                                                    apa ayamku
                        rimau
                                    apa rusaku
            elang
  apa ikanku                
     murai
                                                            apa cacingku
  kalian
    apa tuhankau?
                                    hei beri aku sejemput
                                    siapa tahu bias puas sekejap kucingku

                                                            (Sutardji Calzoum Bachri, O Amuk Kapak, 1981:75)

9) Tipografi sistem bunyi dan kata yang absurd
            Dewasa ini terdapat pula kecendrungan untuk lahirnya puisi yang berajkar kepada system bunyi dan kata dengan susunan yang absurd tidak dapat dirumuskan polanya. Perhatikan con toh berikut.

P O T
                                    Pot apa pot itu pot kaukah pot aku
                                                            Pot pot pot
                        Yang dijawab pot pot pot       pot kaukah pot itu
                        Yang dijawab pot pot pot       pot kaukah pot itu
                                                            Pot pot pot
                                    Potapa potiu potkaukah potaku?
                                                            P O T
                                               
                                                (Sutardji, Ibid : 30)
10. Tipografi Gabungan
            Terdapat banyak puisi yang merupakan gabungan dari tipografi yang telah disebutkan di atas. Seperti gabungan system kalimat, frase, kata, bunyi yang disusun secara lurus dan lekuk. Perhatikan puisi Hamid Jabar berikut ini.
SEBELUM MAUT ITU DATANG,
Ya Allah
Subuh rel kereta dingin itu
Mesjid nan lengang
Diam mendekam jalan itu
Aman nan pingsan
Dan selimut waktu mencekik leherku
Tiang nan gantungan
Dalam gelap
            Lelap ini
Tiada lagi
            Adzan
Kembang rekah mengelopak
Lalu lalang kacau nan panjang
Senyap
            Le
                    nyap
                               sa
                                         at
                                                i
                                                    tu
maut datang menerbangkan
gaibku
masuk kelubung pelukan
Ghaib-Mu
Ya Allah
Ya Allah Ya Akbar
            Ya Allah Ya Akbar
Ya Allah Ya Akbar
            Ya Allah Ya Akbar
Ya Allah Ya Akbar
                        Ya Allah Ya Akbar
            Sebelum maut itu datang, ya Allah
            Punahkan badai raguku
            …………..
            (Hamid Djabar, Wajah Kita, 1981:13-13)

            Tipografi gabungan semacam ini tentu banyak sekali variasinya. Setiap penyair ingin memperlihatkan gaya sendiri ditinjau dari tipografi. Terjadinya berbagai ragam tipografi tidak terlepas dari kecendrungan untuk melepaskan diri dari bentuk puisi yang telah ada. Di samping, terjadinya berbagai jenis tipografi puisi disebabkan pengaruhnya seni lukis ke dalam dunia puisi sehingga puisi tidak saja bersifat ekspresif dari segi gagasan, tetapi juga dari segi visualnya: keindahan bentuk lain mendapat perhatian.
            Terjadinya perubahan-perubahan dalam tipografi atau bentuk formal puisi sebenarnya bermula dari adanya aliran ekspresionisme dalam sastra. Tipografi yang kelihatan bebas tidak terikat kepada bentuk dengan pola-pola tertentu karena puisi itu disusun dengan kreativitas.

Privacy Policy

 <h1>Privacy Policy for Ujung Pena Secuil Tinta</h1> <p>At Ujung Pena Secuil Tinta, accessible from https://wigisutrisno.b...