Sabtu, 08 Maret 2014

Peranan Bahasa Dalam Komunikasi


Stilistika,  juga retorika merupakan ilmu yang menggarap tentang sistem komunikasi, yaitu komunikasi antara penulis dan pembaca, pembicara dan pendengar. Secara umum bahasa didefinisikan sebagai lambang. Bahasa adalah alat komunikasi yang berupa sistem lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Sebagaimana kita ketahui, bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakili. Kumpulan kata atau kosa kata itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut urutan abjad, disertai penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah kamus atau leksikon.

Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi, atau sarana untuk menyampaikan informasi. Selain itu bahasa pada dasarnya lebih dari sekedar alat untuk menyampaikan informasi, atau mengutarakan pikiran dan perasaan, atau gagasan karena bahasa juga berfungsi: 1) untuk tujuan praktis, mengadakan hubungan dalam dalam pergaulan sehari-hari, 2) untuk artistik, manusia mengolah dan menggunakan bahasa dengan seindah-indahnya guna pemuasan rasa estetis manusia, 3) sebagai kunci mempelajari pengetahuan-pengetahuan lain, diluar pengetahuan kebahasaan, 4) untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar belakang sejarah manusia, selama kebudayaan dan adat-istiadat serta perkembangan bahasa itu sendiri.

Bahasa sebagai alat komunikasi dan kontrol sosial tentu saja tidak semuanya dapat diterima sebagai seni sastra. Bahasa dalam kehidupan sehari-hari digunakan dalam banyak hal seperti penghormatan, perjanjian, pengharapan, memeritah, informasi, laporan, dan seterusnya. Bahasa meliputi segala macam komunikasi yang menyangkut penggunaan lambang bunyi bahasa, sedangkan sastra meliputi hanya satu daerah tertentu dari keseluruhan wilayah kekuasaan bahasa dan bukan keseluruhanya.  

1.      Peranan Bahasa dalam Komunikasi Sastra

Stilistika mempunyai pandangan tertentu tentang bahasa, yang tentunya berbeda dengan pandangan linguistik. Dari pandangan stilistika bahasa merupan sistem simbol berupa bunyi bahasa yang mempunyai daya simbolis yang tinggi. Karena itu, pemakai bahasa dapat melakukan penggeneralisasian, pengklasifikasian, dan pengabstraksian. Harus diakui bahwa sifat bahasa itu absrtak. Ia tidak secara langsung menunjuk atau mengacu sesuatu sehingga terbuka untuk dijadikan berbagai kemungkinan penafsiran.

Oleh sebab itu selalu diingatkan agar pemakai bahasa selalu berhati-hati agar apa yang dimaksudkan tidak jauh berberda dengan apa yang dipahami pendengar atau pembaca. Harus diakui pula bahwa bahasa sama dengan peta, betapapun hati-hati dalam pembuatanya, namun peta itu tidak akan pernah sama dengan daerah yang dipetakan. Bagaimanapun baiknya bahasa yang dipakai oleh penutur yang tidak pernah persis sama dengan yang dititurkan.

Dalam hubungan dengan pemakaian bahasa dalam komunikasi dianjurkan untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

a.      Memilih corak atau ragam bahasa secara sermat

Artinya, bahasa dalam kenyataan mengenal berbagai corak atau ragam. Masing-masing corak atau ragam dipakai dalam kondisi yang berbeda-beda. Bahasa yang dipakai dalam pergaulan berbeda dengan bahasa yang dipakai pada saat berkhotbah, dalam sastra berbeda pula dengan penulisan ilmiah atau surat resmi. Penutur harus teliti memilih corak bahasa yang akan digunakan. Pemilihan corak atau ragam bahasa itu dengan mempertimbangkan situasi, lawan tutur, sarana dan tujuan yang hendak dicapai.



b.      Memilih materi bahasa dan menatanya secara teliti

Artinya, materi bahasa seperti kata, ungkapan, istilah, dan kalimat kaya dengan pilihan. Pentingnya pemilihan adalah untuk menghindari kemenotonan. Selain itu materi bahasa itu harus ditata dengan teliti agar gramatikal dan dapat menampung gagasan dan akhirnya dapat diterima dengan mudah oleh pembaca atau pendengar.



c.       Memilih gaya bahasa yang sesuai

Artinya, dalam berkomunikasi ada gaya tertentu yang dipilih. Gaya itu penting. Karena gaya bagaikan peranan bumbu penyebab pada masakan. Gaya tentu saja saja tidak asal bergaya. Gaya yang dipilih bukan atas pertimbangan selera penulis atau pembica semata, namun yang lebih penting adalah dengan pertimbagan bahwa gaya itu disukai oleh pembaca atau pendengar. Selain itu pengertian gaya di sini bukan dalam pengertian sempit sepeti pemakaian majas, tetapi dalam pemakaian yang luas seperti variasi pengungkapan, penyusunan alur, serta penekanan di sana sini.

Bahasa dalam kesusasteraan, seperti juga dalam bidang lainnya, adalah media penghubung  antara sesama anggota masyarakat dalam kegitan sosial dan kebudayaan. Terapi gaya bahasa dalam kesusasteraan berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, seperi bahasa pidato politik, bahasa surat kabar, bahasa buku teks, dan lain-lain. Dasar penggunaan bahasa dalam sastra bukan bukan sekedar paham, tetapi yang lebih penting ialah keberdayaan pilihan kata itu mengusik dan meninggalkan kesan kepada sentivitas pembaca. Nilai konotasi yang lebih luas dari pengertian denotasi yang amat penting. Setiap kata yang dipilih boleh diasosiasikan kepada berbagai daerah pengertia. Oleh sebab itu dalam sastra tidak ada pengertian yang samabila ditinjau dari sudut kesan sensivitas, dari sudut bunyi, dan sudut lambing.

Kelebihan sastra sebagai karya kreatif terletak pada unsur-unsur bahasa serta interaksi antara unsure-unsur bahasa tersebut dengan dunia nyata yang berada di luar dirinya. Bahasa yang dipakai dalam kesusasteraan bukan saja berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi lebih dari itu ia member makna yang lebih luas terhadap komunikasi dan hubungan antar manusia. Bila mau dibedakan antara bahasa kewartawanan dengan bahasa kesusasteraan, maka perbedaan tersebut adalah bahasa kewartawanan lebih bersifat literal, sedangkan bahasa kesusteraan lebih bersifat simbolis dalam arti bahasa sastra bukan saja mengungkapkan yang tersurat, tetapi juga tersirat.

2.      Sifat Khas Komunikasi Sastra

Komunikasi saatra merupakan komunikasi tertinggi, sebab mekanisme unsure-unsur yang paling luas. Schmidt menjelasakan bahwa komunikasi sastra melibatkan proses total yang meliputi: 1) prodiksi teks, yaitu aktivitas pengarang dalam menghasilkan teks tertentu , 2) Teks itu itu sendiri dengan berbagai problematika, 3) Transmisi teks, yaitu melalui editor, penerbit, toko-toko buku, dan pembaca dan 4) penerima teks, yaitu melalui aktivitas pembaca (Ratna, 2003:136). Sifat khas komunikasi sastra dapat dilihat dari hubungan satrawan dengan pembacanya. Dalam artian ada saling keterkaitan antara sifat komunikasi dan pelaku komunikasi, yakni sastrawan, bahasa yang digunakan dan pembaca satra.

Pertama, hubungan sastrawan dengan pembaca sangat khas dari sifat komunikasinya. Hubungan kedua unsur ini adalah hubungan timbal balik. Padaal komunikasi, sastrawan berkomunikasi  dengan pembaca berangkat dari praanggapan yang sama. Sastrawan dan pembaca harus sadar bahwa mereka berkomunikasi melalui karya sastra. pembaca harus sadar bahwa karya satra yang mereka baca berisi antara kenyataan dan khayalan. Dalam karya sastra, praanggapan ini dinamakan konveksi sastra.

Kedua, kekhasan komunikasi sastra dapat dilihat pada diri pembaca itu sendiri. Pada saat membaca karya sastra, pembaca tidak dapat langsung berkomunikasi dengan sastrawan. Pembaca adalah pemilih, penenima, penafsiran, pemberi, dan penyusun makna karya sastra sehingga menghasilkan nilai-nilai tertentu (Aminuddin 1997:94). Dalam karya sastra serius, komunikasi pembaca kepada sastrawan dapat berupa usulan atau tulisan kritik, sedangkan pada sastra pop komunikasi antara sastrawan dengan pembaca nyaris tidak ada (Zoes, 1990: 54-55).

Ketiga, kekhasan komunikasi sastra dapat dilihat pada karya sastra itu sendiri. Setelah pembaca membaca karya sastra, sebenarnya akan muncul karya yang lain. Karya lain itu adalah karya yang ada di dalam alam pikiran pembaca sesuai dengan penafsiran dan sistem yang ada dalm pikirannya.

Keempat, sifat kahas komunikasi sastra itu dapat dilihat dari diri sastrawannya. Hubungan antara sastrawan dengan pembaca juga bisa berupa hubungan yang timbul akibat sikap dan pandangan sastrawan terhadap pembaca. Selain muncul dari sikap sehari-hari, sikap terhadap pembaca tampak pada karya sastra.

Privacy Policy

 <h1>Privacy Policy for Ujung Pena Secuil Tinta</h1> <p>At Ujung Pena Secuil Tinta, accessible from https://wigisutrisno.b...