Stilistika,
juga retorika merupakan ilmu yang
menggarap tentang sistem komunikasi, yaitu komunikasi antara penulis dan
pembaca, pembicara dan pendengar. Secara
umum bahasa didefinisikan sebagai lambang. Bahasa adalah alat komunikasi yang
berupa sistem lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Sebagaimana kita
ketahui, bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing
mempunyai makna yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan
objek atau konsep yang diwakili. Kumpulan kata atau kosa kata itu oleh ahli
bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut urutan abjad, disertai penjelasan
artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah kamus atau leksikon.
Fungsi
utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi, atau sarana untuk menyampaikan
informasi. Selain itu bahasa pada dasarnya lebih dari sekedar alat untuk
menyampaikan informasi, atau mengutarakan pikiran dan perasaan, atau gagasan
karena bahasa juga berfungsi: 1) untuk tujuan praktis, mengadakan hubungan
dalam dalam pergaulan sehari-hari, 2) untuk artistik, manusia mengolah dan
menggunakan bahasa dengan seindah-indahnya guna pemuasan rasa estetis manusia,
3) sebagai kunci mempelajari pengetahuan-pengetahuan lain, diluar pengetahuan
kebahasaan, 4) untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar
belakang sejarah manusia, selama kebudayaan dan adat-istiadat serta
perkembangan bahasa itu sendiri.
Bahasa
sebagai alat komunikasi dan kontrol sosial tentu saja tidak semuanya dapat
diterima sebagai seni sastra. Bahasa dalam kehidupan sehari-hari digunakan
dalam banyak hal seperti penghormatan, perjanjian, pengharapan, memeritah,
informasi, laporan, dan seterusnya. Bahasa meliputi segala macam komunikasi
yang menyangkut penggunaan lambang bunyi bahasa, sedangkan sastra meliputi
hanya satu daerah tertentu dari keseluruhan wilayah kekuasaan bahasa dan bukan
keseluruhanya.
1.
Peranan
Bahasa dalam Komunikasi Sastra
Stilistika
mempunyai pandangan tertentu tentang bahasa, yang tentunya berbeda dengan pandangan
linguistik. Dari pandangan stilistika bahasa merupan sistem simbol berupa bunyi
bahasa yang mempunyai daya simbolis yang tinggi. Karena itu, pemakai bahasa
dapat melakukan penggeneralisasian, pengklasifikasian, dan pengabstraksian.
Harus diakui bahwa sifat bahasa itu absrtak. Ia tidak secara langsung menunjuk
atau mengacu sesuatu sehingga terbuka untuk dijadikan berbagai kemungkinan
penafsiran.
Oleh
sebab itu selalu diingatkan agar pemakai bahasa selalu berhati-hati agar apa
yang dimaksudkan tidak jauh berberda dengan apa yang dipahami pendengar atau
pembaca. Harus diakui pula bahwa bahasa sama dengan peta, betapapun hati-hati
dalam pembuatanya, namun peta itu tidak akan pernah sama dengan daerah yang
dipetakan. Bagaimanapun baiknya bahasa yang dipakai oleh penutur yang tidak
pernah persis sama dengan yang dititurkan.
Dalam
hubungan dengan pemakaian bahasa dalam komunikasi dianjurkan untuk
memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
a.
Memilih
corak atau ragam bahasa secara sermat
Artinya,
bahasa dalam kenyataan mengenal berbagai corak atau ragam. Masing-masing corak
atau ragam dipakai dalam kondisi yang berbeda-beda. Bahasa yang dipakai dalam
pergaulan berbeda dengan bahasa yang dipakai pada saat berkhotbah, dalam sastra
berbeda pula dengan penulisan ilmiah atau surat resmi. Penutur harus teliti
memilih corak bahasa yang akan digunakan. Pemilihan corak atau ragam bahasa itu
dengan mempertimbangkan situasi, lawan tutur, sarana dan tujuan yang hendak
dicapai.
b.
Memilih
materi bahasa dan menatanya secara teliti
Artinya,
materi bahasa seperti kata, ungkapan, istilah, dan kalimat kaya dengan pilihan.
Pentingnya pemilihan adalah untuk menghindari kemenotonan. Selain itu materi
bahasa itu harus ditata dengan teliti agar gramatikal dan dapat menampung
gagasan dan akhirnya dapat diterima dengan mudah oleh pembaca atau pendengar.
c.
Memilih
gaya bahasa yang sesuai
Artinya,
dalam berkomunikasi ada gaya tertentu yang dipilih. Gaya itu penting. Karena
gaya bagaikan peranan bumbu penyebab pada masakan. Gaya tentu saja saja tidak
asal bergaya. Gaya yang dipilih bukan atas pertimbangan selera penulis atau
pembica semata, namun yang lebih penting adalah dengan pertimbagan bahwa gaya
itu disukai oleh pembaca atau pendengar. Selain itu pengertian gaya di sini
bukan dalam pengertian sempit sepeti pemakaian majas, tetapi dalam pemakaian
yang luas seperti variasi pengungkapan, penyusunan alur, serta penekanan di
sana sini.
Bahasa dalam kesusasteraan, seperti
juga dalam bidang lainnya, adalah media penghubung antara sesama anggota masyarakat dalam
kegitan sosial dan kebudayaan. Terapi gaya bahasa dalam kesusasteraan berbeda
dengan bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, seperi bahasa pidato
politik, bahasa surat kabar, bahasa buku teks, dan lain-lain. Dasar penggunaan
bahasa dalam sastra bukan bukan sekedar paham, tetapi yang lebih penting ialah
keberdayaan pilihan kata itu mengusik dan meninggalkan kesan kepada sentivitas
pembaca. Nilai konotasi yang lebih luas dari pengertian denotasi yang amat
penting. Setiap kata yang dipilih boleh diasosiasikan kepada berbagai daerah
pengertia. Oleh sebab itu dalam sastra tidak ada pengertian yang samabila
ditinjau dari sudut kesan sensivitas, dari sudut bunyi, dan sudut lambing.
Kelebihan sastra sebagai karya
kreatif terletak pada unsur-unsur bahasa serta interaksi antara unsure-unsur
bahasa tersebut dengan dunia nyata yang berada di luar dirinya. Bahasa yang
dipakai dalam kesusasteraan bukan saja berfungsi sebagai alat komunikasi,
tetapi lebih dari itu ia member makna yang lebih luas terhadap komunikasi dan
hubungan antar manusia. Bila mau dibedakan antara bahasa kewartawanan dengan
bahasa kesusasteraan, maka perbedaan tersebut adalah bahasa kewartawanan lebih
bersifat literal, sedangkan bahasa kesusteraan lebih bersifat simbolis dalam
arti bahasa sastra bukan saja mengungkapkan yang tersurat, tetapi juga
tersirat.
2.
Sifat
Khas Komunikasi Sastra
Komunikasi
saatra merupakan komunikasi tertinggi, sebab mekanisme unsure-unsur yang paling
luas. Schmidt menjelasakan bahwa komunikasi sastra melibatkan proses total yang
meliputi: 1) prodiksi teks, yaitu aktivitas pengarang dalam menghasilkan teks
tertentu , 2) Teks itu itu sendiri dengan berbagai problematika, 3) Transmisi
teks, yaitu melalui editor, penerbit, toko-toko buku, dan pembaca dan 4)
penerima teks, yaitu melalui aktivitas pembaca (Ratna, 2003:136). Sifat khas komunikasi
sastra dapat dilihat dari hubungan satrawan dengan pembacanya. Dalam artian ada
saling keterkaitan antara sifat komunikasi dan pelaku komunikasi, yakni
sastrawan, bahasa yang digunakan dan pembaca satra.
Pertama,
hubungan sastrawan dengan pembaca sangat khas dari sifat komunikasinya.
Hubungan kedua unsur ini adalah hubungan timbal balik. Padaal komunikasi,
sastrawan berkomunikasi dengan pembaca
berangkat dari praanggapan yang sama. Sastrawan dan pembaca harus sadar bahwa
mereka berkomunikasi melalui karya sastra. pembaca harus sadar bahwa karya
satra yang mereka baca berisi antara kenyataan dan khayalan. Dalam karya
sastra, praanggapan ini dinamakan konveksi sastra.
Kedua,
kekhasan komunikasi sastra dapat dilihat pada diri pembaca itu sendiri. Pada
saat membaca karya sastra, pembaca tidak dapat langsung berkomunikasi dengan
sastrawan. Pembaca adalah pemilih, penenima, penafsiran, pemberi, dan penyusun
makna karya sastra sehingga menghasilkan nilai-nilai tertentu (Aminuddin
1997:94). Dalam karya sastra serius, komunikasi pembaca kepada sastrawan dapat
berupa usulan atau tulisan kritik, sedangkan pada sastra pop komunikasi antara
sastrawan dengan pembaca nyaris tidak ada (Zoes, 1990: 54-55).
Ketiga,
kekhasan komunikasi sastra dapat dilihat pada karya sastra itu sendiri. Setelah
pembaca membaca karya sastra, sebenarnya akan muncul karya yang lain. Karya
lain itu adalah karya yang ada di dalam alam pikiran pembaca sesuai dengan
penafsiran dan sistem yang ada dalm pikirannya.
Keempat,
sifat kahas komunikasi sastra itu dapat dilihat dari diri sastrawannya. Hubungan
antara sastrawan dengan pembaca juga bisa berupa hubungan yang timbul akibat
sikap dan pandangan sastrawan terhadap pembaca. Selain muncul dari sikap
sehari-hari, sikap terhadap pembaca tampak pada karya sastra.